Header

Header

Sabtu, 30 April 2011

Banjir Nuh, Negeri Saba dan Banjir menurut Oppenheimer

KEJADIAN BANJIR NUH DAN NEGERI SABA

Dalam Al-Qur’an ada 2 (dua) kejadian banjir

BANJIR NUUH

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ ﴿١٤﴾

014. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa BANJIR BESAR, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ ﴿٤٢﴾

042. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam GELOMBANG LAKSANA GUNUNG. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

(HUUD)

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُواْ مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ ﴿٣٨﴾

038. Dan mulailah Nuh MEMBUAT BAHTERA. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (HUUD)

حَتَّى إِذَا جَاء أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ ﴿٤٠﴾

040. Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah MEMANCARKAN AIR, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (HUUD)

وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٤١﴾

041. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu BERLAYAR dan BERLABUHNYA." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (HUUD)

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ﴿٤٣﴾

043. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari AIR BAH!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan GELOMBANG menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (HUUD)

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴿٤٤﴾

044. Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan AIRPUN DISURUTKAN, perintahpun diselesaikan dan BAHTERA itupun BERLABUH di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (HUUD)

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِّنَّا وَبَركَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٤٨﴾
048. Difirmankan: "Hai Nuh, TURUNLAH DENGAN SELAMAT SEJAHTERA dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu'min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (HUUD)

تِلْكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٤٩﴾
049. Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (HUUD)

BANJIR NEGERI SABA

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾

016. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka BANJIR (ARUS) yang BESAR dan Kami GANTI kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang BERBUAH PAHIT, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (SABA)

KATA الْعَرِمِ (arim) SATU-SATUNYA KATA YANG ARTINYA BESAR DALAM AL-QUR’AN

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ ﴿١٧﴾

017. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (SABA)

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّاماً آمِنِينَ ﴿١٨﴾

018. Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. (SABA)

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ ﴿١٩﴾

019. Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami JAUHKANLAH JARAK PERJALANAN KAMI", dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka SEHANCUR-HANCURNYA. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (SABA)


BANJIR NUH MENURUT OPPENHEIMER

13 Desember 2010

Nusantara Asal Peradaban Dunia?

ATAP bangunan itu sangat khas. Disebut tongkonan, rumah adat Toraja menjadi salah satu arsitektur tradisional paling gampang dikenal di Indonesia. Materialnya uru, kayu lokal yang seawet jati. Arahnya selalu utara. Atapnya melengkung.

Meski orang Toraja tinggal di pegunungan, atap lengkung indah itu ternyata terkait dengan citra lautan atau perairan. Bentuk rumah dengan atap lengkung itu menggambarkan perahu.

"Model atap itu menggambarkan perahu yang digunakan Puang Buralangi pada saat berlayar ke Toraja, ribuan tahun silam," kata C.F. Palimbong, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Toraja-Toraja Utara, kepada Tempo beberapa waktu lalu. Dalam mitologi Toraja, Puang Buralangi adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan.

Buralangi ini diciptakan Tuhan di bagian utara langit dan kemudian diturunkan di daerah yang disebut Pongko sebelum pergi ke Toraja dan beranak-pinak di sana. Letak Pongko itu di daerah utara. Itu sebabnya, tongkonan selalu menghadap utara. Tidak ada kepastian di mana Pongko itu berada. "Pongko yang saya pahami adalah Tiongkok atau Cina," kata Palimbong.

Kisah penciptaan Buralangi juga bercerita tentang banjir besar yang merendam daerahnya. "Karena kondisi ini pulalah Puang Buralangi menggunakan perahu ke Toraja," ujarnya. Perahu ini kemudian diabadikan dalam bentuk atap rumah.

Versi lain mitologi banjir di Toraja, dengan sedikit perbedaan detail, diungkap oleh Stephen Oppenheimer beberapa pekan silam dalam sebuah diskusi di gedung LIPI, Jakarta. Saat itu ia menjelaskan teorinya yang ia tulis dalam buku setebal 800 halaman, Eden in the East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara (edisi Inggris terbit pada 1998, bahasa Indonesia bulan lalu). Inilah buku yang menarik untuk dibicarakan. Sensasional tapi argumentasinya memikat karena bersangkut-paut dengan masa lalu sejarah kita yang misterius. "Karakter khas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir," kata ilmuwan genetika dari Universitas Oxford, London, Inggris, itu.

Kisah banjir ini yang menjadi satu dasar teori Oppenheimer bahwa banyak peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, terutama dari wilayah Paparan Sunda, yang sekarang sudah tenggelam menjadi Laut Jawa dan Laut Cina Selatan. Dasar lain yang digunakan Oppenheimer adalah pemetaan genetika.

Paparan Sunda alias Sundaland itu wilayah dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut karena Zaman Es berakhir sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan Asia Daratan. Daratan ini juga menghubungkan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina.

Oppenheimer percaya, saat Paparan Sunda itu belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar. Kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. "Belum ada masyarakat lain (di dunia saat itu) yang bisa melakukannya," kata Oppenheimer.

Begitu Paparan Sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ini ke seluruh dunia. Ke barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia dan sekitarnya ini sampai Eropa, sedangkan ke timur sampai ke Benua Amerika dengan melewati Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bisa dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.

Menurut Oppenheimer, peradaban tua Sumeria, 5.000 tahun SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia-keluarga bahasa yang mencakup bahasa-bahasa di Indonesia-dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria sistem hukum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antarkota. Roda, salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk huruf paku.

Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di kelompok penutur Austronesia di Asia Tenggara seperti cat merah. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah. Seni membuat rajah alias tato itu khas Austronesia. Di Sepik Tengah, Papua Nugini, beberapa suku lokal sampai kini, seperti dilihat Oppenheimer, saat bertahun-tahun menjadi dokter yang meneliti penyakit malaria di Papua Nugini, masih mempraktekkan seni membuat rajah ini.

Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir. Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda di wilayah Nusantara dahulu kala.

Sampai dua abad silam, cerita banjir Nuh adalah satu-satunya legenda tentang banjir besar yang dikenal dunia mutakhir. Munculnya mitologi banjir besar, yang sebagian sangat mirip kisah Nuh, baru muncul saat tablet-tablet tulisan huruf paku, semacam buku dari kerajaan tua Sumeria, ditemukan di Irak oleh Hormuzd Rassam pada 1853. Tablet-tablet itu pertama kali diterjemahkan oleh arkeolog Inggris, George Smith, pada awal 1870.

Tablet itu berisi kisah Gilgamesh, Raja Sumeria. Dalam cerita itu, Gilgamesh bertemu dengan Utnapishtim di negeri timur yang mengaku selamat dari banjir besar yang melanda negerinya karena naik perahu besar. Dalam perahu itu, ia membawa semua benih yang bisa ditanam. Setelah beberapa hari, ia melepas burung untuk mengetahui apakah sudah tampak ada daratan. Belakangan arkeolog Inggris lain, Sir Leonard Woolley, pada 1929, menyimpulkan bahwa kisah Utnapishtim dan banjir Nuh itu sama.

Rupanya Utnapishtim bukan satu-satunya kisah tentang air bah yang mirip banjir Nuh. Beberapa kisah serupa mulai teridentifikasi. Di Wales-negeri kecil yang pemerintahannya menyatu dengan Inggris-ada dongeng Danau Llion yang menyembur dan membanjirkan seluruh daratan kecuali Dwyfan dan Dwyfach. Mereka selamat dengan kapal tanpa tiang dan kembali mendiami Pulau Pridain (Britania). Kapal itu berisi sepasang binatang dari setiap makhluk hidup.

Di Lituania, ada dongeng bahwa Pramzimas, sang dewa tertinggi, sudah muak terhadap keburukan manusia sehingga mengirim Wandu dan Wejas. Karena terlalu bersemangat bekerja mengirim air bah, dalam 20 hari tersisa sangat sedikit manusia.

Tapi di Asia Tenggara dan wilayah berpenutur Austronesia lain, seperti di kepulauan Pasifik, menurut Oppenheimer, kisah banjir seperti Nabi Nuh dan Sumeria ini sangat banyak. "Mayoritas dongeng tersebut diceritakan oleh penduduk minoritas yang tinggal di pulau kecil," kata Oppenheimer. Rupanya, di pulau kecil ini, bayangan banjir selalu ada. Kisah air bah pun dianggap "kontekstual" sehingga mitologi bisa awet dan diturunkan selama ribuan tahun.

Di Tahiti, misalnya, ada kisah banjir setinggi gunung, selama sepuluh hari. Jelas bukan tsunami, yang mungkin sudah dikenal di daerah itu, karena lamanya sampai 10 hari. Adapun suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki ciri sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur. Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung, dan inses orang yang selamat.

Selain tema air bah, yang memiliki sejumlah kemiripan adalah mitologi proses penciptaan dunia serta Habil dan Qabil. Bagi Oppenheimer, hal-hal ini bukan kebetulan. Karena itu, sumbernya pasti dari satu wilayah dan wilayah tersebut, menurut dia, ada kemungkinan di Asia Tenggara. "Mitos banjir pasti datang dari Kepulauan Asia Tenggara-dari kawasan Nusantara, yang kehilangan sebagian besar daratan (setelah Zaman Es berakhir)," tutur Oppenheimer dalam bukunya.

Apalagi kadang kesamaan mitologi ini disertai jejak genetika. Kisah Kalevala, misalnya, berasal dari Finlandia. Dan di negeri itu-serta sejumlah wilayah Eropa utara lain, seperti Estonia-ditemukan jejak-jejak genetis yang serupa dengan Asia Tenggara.

Dalam peta Journey of Mankind (Perjalanan Umat Manusia) yang dipaparkan di salah satu situs Internet, Oppenheimer memaparkan teori yang dipercaya sebagian besar ahli dunia tentang persebaran manusia sejak lahir di tanah Afrika sekitar 170 ribu tahun silam. Ini adalah persebaran manusia modern, Homo sapiens.

Pada 90-85 ribu tahun silam, sekelompok manusia meninggalkan Afrika ke timur, lewat Laut Merah. Dalam 10 ribu tahun, mereka terus bergeser mengikuti garis pantai Asia hingga sampai ke pantai di Cina.

Setelah Toba meledak-ledakan gunung terbesar

Menurut teori yang dikemukakan Peter Belwood pada akhir 1970-an, orang Taiwan masuk wilayah Indonesia dan sekitarnya baru pada 4.000-3.500 tahun sebelum Masehi. Batas waktu ini jauh lebih muda daripada teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa orang Austronesia sudah ada di wilayah ini sejak, mungkin, 50 ribu tahun silam dan mengembangkan teknologi pertanian di sini.

Arkeolog seperti Harry Truman Simanjuntak, profesor dari Universitas Indonesia, tetap memegang teori Belwood ini. "Arkeologi dan linguistik kurang mendukung (teori Oppenheimer)," katanya. Ia merujuk pada sejumlah temuan seperti tembikar yang waktunya tidak melebihi batas 4.000 tahun itu.

Harry bahkan memperkuat temuan Belwood dengan teori bahwa jalur penyebaran dari Taiwan ini tidak hanya lewat Filipina-Kalimantan, tapi juga menyusuri pantai Indocina, kemudian menyeberang ke Sumatera dan Jawa. Teori ini berdasarkan perbed

Teori Oppenheimer memang tidak sedramatis teori mendiang Arysio Nunes dos Santos, profesor fisika nuklir dari Brasil, yang menulis bahwa negeri Atlantis, seperti yang dikisahkan Plato, ada di wilayah Paparan Sunda itu. Seperti dikatakan Harry Truman Simanjuntak, teori Oppenheimer, meski ditentangnya, lebih masuk akal.


Nur Khoiri, Rudy Prasetyo, Muhammad Adnan Husain (Toraja)

TAHAPAN NENEK MOYANG PENGHUNI BUMI

1,6 JUTA TAHUN SILAM
Pithecanthropus erectus hidup di Sangiran.

170 RIBU TAHUN SM
Manusia modern (Homo sapiens) lahir di Afrika.

90-85 RIBU TAHUN SM
Homo sapiens menyeberangi Laut Merah. Semua orang non-Afrika keturunan mereka.

85-75 RIBU TAHUN SM
Homo sapiens bergerak menyusuri pantai Asia sampai ke Cina di pinggir Pasifik.

74-65 RIBU TAHUN SM
Manusia berpindah ke Papua dan Australia dengan perahu.

65-50 RIBU SM
Wilayah Eropa mulai menghangat. Manusia sudah mulai bergerak ke Eropa.

50 RIBU TAHUN SM
Homo erectus soloensis termuda yang ditemukan. Fosilnya ditemukan di Ngandong, dekat Solo. Ini berarti ia hidup berdampingan dengan manusia modern (Homo sapiens) Menurut Oppenheimer, sekitar masa ini nenek moyang orang Indonesia sudah ada di wilayah Asia Tenggara.

25-22 RIBU SM
Dari Asia bergerak ke Amerika lewat Selat Bering.

8.000-6.000 RIBU SM
Berakhirnya Zaman Es. Paparan Sunda (Sundaland) terendam air, mengakibatkan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, yang semula menyatu dengan daratan Asia, menjadi pulau-pulau sendiri. Menurut teori Oppenheimer, berakhirnya Zaman Es membuat orang Austronesia, termasuk nenek moyang orang Indonesia, menyebar ke seluruh dunia membawa teknologi baru.

5.000 SM
Peradaban Sumeria sudah terbentuk. Peralatan logam, yakni dari perunggu, mulai dipakai. Menurut Oppenheimer, peradaban nenek moyang orang Indonesia mempengaruhi peradaban Sumeria ini.

3.500 SM
Orang Austronesia menyebar ke Pasifik.

3.100 SM
Kerajaan Mesir berdiri.

2.100 SM
Kerajaan di Cina berdiri lewat pemerintahan Dinasti Xia.

Asal Nusantara

Nenek moyang manusia tertua terlacak hingga ke tanah Afrika pada 170 ribu tahun silam. Tapi tanah Asia Tenggara, tempat Indonesia berada, menjadi penting karena menjadi persinggahan utama dan mereka kemudian menyebar ke Asia Daratan.

AFRIKA
Homo sapiens (manusia modern) tertua bisa dirunut sampai ke fosil di Afrika yang sudah berusia sekitar 170 ribu tahun.

SUMERIA
Negeri tua ini tidak hanya mengenal kisah banjir yang serupa dengan kisah di Asia Tenggara. Tapi ada kesamaan gerabah Austronesia dengan di Sumeria. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah. Seni membuat rajah alias tato itu khas Austronesia.

EROPA
Kisah banjir besar juga ditemukan di Lituania. Sedangkan jejak genetis Austronesia terekam di sebagian penduduk Finlandia dan wilayah Eropa utara lain.

TIMUR TENGAH
Peradaban di Timur Tengah sudah ribuan tahun mengenal kisah dongeng air bah, dari kisah Nabi Nuh sampai Galgamesh di Sumeria. Motifnya tidak berbeda dengan di Asia Tenggara atau Polinesia.

ASIA TENGGARA
Saat Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dalam wilayah besar yang sekarang disebut Paparan Sunda. Stephen Oppenheimer berpendapat bahwa di wilayah ini, orang Austronesia alias Asia Tenggara sekarang ini sudah ada sejak sekitar 50 ribu tahun silam.

DARI PAPARAN SUNDA
Sejumlah mitologi yang serupa dengan kisah banjir Nuh dan temuan arkeologi menunjukkan ada hubungan antara wilayah Austronesia dan berbagai penjuru dunia. Oppenheimer memperkirakan mitologi ini disebarkan orang berpenutur rumpun Melayu ketika kawasan itu disapu banjir karena Zaman Es berakhir, yang membuat Sumatera, Jawa, dan Kalimantan terpisah.

THAILAND
Ditemukan butir beras dari era 7.000-5.000 tahun sebelum Masehi di semenanjung Melayu. Batas waktu ini lebih tua beberapa tahun dibanding kedatangan orang Austronesia dari Taiwan, yang diperkirakan membawa teknologi pertanian.

ASIA DARATAN
Suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki ciri sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur. Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung, dan inses orang yang selamat.
Pemetaan genetis menunjukkan bahwa penduduk Asia berasal dari Asia Tenggara, bukan kebalikan: orang Asia Tenggara datang dari Taiwan.

TAIWAN
Di pulau ini, bahasa Austronesia berasal. Hal ini memunculkan teori "Out of Taiwan", yang menyatakan orang Austronesia keturunan Taiwan. Sejumlah jejak arkeologi, seperti gerabah, menunjukkan kerangka waktu "Out of Taiwan", yang ditentang Oppenheimer, masih cocok.

POLINESIA/PASIFIK
Polinesia dihuni orang bertutur Austronesia. Sejumlah dongeng banjir atau penciptaan, dengan motif yang mirip, tersebar di wilayah ini.

NASKAH: NUR KHOIRI ILUSTRASI: BONITA KAULITZ
SUMBER: EDEN IN THE EAST, JOURNEY OF MANKIND

Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/13/IQR/mbm.20101213.IQR135339.id.html


Oppenheimer berteori, bangsa yang akibat banjir nabi Nuh ada di Indonesia

Seorang ilmuwan dari Univeritas Oxford, Inggris, meyakini banjir Nabi Nuh adalah fakta sejarah yang terjadi di kawasan Indonesia. Kisah banjir Nuh diyakini sebagai pemicu migrasi massal dari benua Sundaland yang tenggelam.

Profesor Stephen Oppenheimer menulis buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, untuk mengungkapkan penelitiannya. Pakar genetika ini juga sekaligus mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia.

Menurut dia, satu-satunya dongeng yang menyebar luas di dunia secara merata adalah kisah banjir Nabi Nuh dengan segala versinya. Umat Islam, Kristen dan Yahudi tentu mendapatkan kisah banjir Nuh dari kitab suci masing-masing.

Namun, bagaimana dengan masyarakat pra Islam, Kristen dan Yahudi? Misalnya saja bangsa Sumeria, Babilonia, India, Yunani. Mereka pun ternyata punya kisah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh daratan.

Buku Eden in The East setebal 814 halaman ini, separuhnya dihabiskan Oppenheimer untuk membedah dongeng-dongeng ini. Oppenheimer mencatat ada sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia. Dari India sampai Amerika, dari Australia sampai Eropa.

Tokoh utamanya pun berubah-ubah. Agama samawi menyebutnya Nuh, atau Noah. Bangsa Mesopotamia menyebut sang jagoan adalah Utanapishtim, di Babilonia kuno disebut Athrasis, orang India kuno menyebutnya Manu.

Nama boleh beda, namun inti ceritanya sama. Ada banjir besar yang menenggelamkan daratan, sang tokoh utama menyelamatkan diri dengan perahu, atau kapal besar. Dia pun tidak lupa membawa hewan-hewan. Kapalnya nanti mendarat di gunung dan sang tokoh utama bersama keluarga atau pengikutnya melanjutkan kehidupan mereka yang baru.

Oppenheimer pun mengungkapkan, kisah-kisah banjir lebih banyak lagi terdapat di Asia Tenggara. Variasinya sangat bermacam-macam pada berbagai suku pedalaman di Indonesia, Malaysia, Filipina dan pulau-pulau di Polinesia.

Tingkat keberagaman cerita banjir di kawasan ini pun membuat Oppenheimer berteori, kalau bangsa yang terpaksa berimigrasi akibat banjir besar, tinggal di Indonesia dan sekitarnya. Semua kisah banjir ini menurut Oppenheimer adalah bukti kalau banjir besar di penghujung Zaman Es ini adalah benar adanya.

25th October 2010, 12:15
SUMBER : http://forum.detik.com/oppenheimer-berteori-bangsa-yang-akibat-banjir-nabi-nuh-ada-di-t214873.html


Indonesia dan Banjir Nabi Nuh

Rabu, 27 Oktober 2010⁠

Seorang ilmuwan dari Univeritas Oxford, Inggris, meyakini banjir Nabi Nuh adalah fakta sejarah yang terjadi di kawasan Indonesia. Kisah banjir Nuh diyakini sebagai pemicu migrasi massal dari benua Sundaland yang tenggelam.

Profesor Stephen Oppenheimer menulis buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, untuk mengungkapkan penelitiannya. Pakar genetika ini juga sekaligus mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia.

Menurut dia, satu-satunya dongeng yang menyebar luas di dunia secara merata adalah kisah banjir Nabi Nuh dengan segala versinya. Umat Islam, Kristen dan Yahudi tentu mendapatkan kisah banjir Nuh dari kitab suci masing-masing.

Namun, bagaimana dengan masyarakat pra Islam, Kristen dan Yahudi? Misalnya saja bangsa Sumeria, Babilonia, India, Yunani. Mereka pun ternyata punya kisah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh daratan.

Buku Eden in The East setebal 814 halaman ini, separuhnya dihabiskan Oppenheimer untuk membedah dongeng-dongeng ini. Oppenheimer mencatat ada sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia. Dari India sampai Amerika, dari Australia sampai Eropa.

Tokoh utamanya pun berubah-ubah. Agama samawi menyebutnya Nuh, atau Noah. Bangsa Mesopotamia menyebut sang jagoan adalah Utanapishtim, di Babilonia kuno disebut Athrasis, orang India kuno menyebutnya Manu.

Nama boleh beda, namun inti ceritanya sama. Ada banjir besar yang menenggelamkan daratan, sang tokoh utama menyelamatkan diri dengan perahu, atau kapal besar. Dia pun tidak lupa membawa hewan-hewan. Kapalnya nanti mendarat di gunung dan sang tokoh utama bersama keluarga atau pengikutnya melanjutkan kehidupan mereka yang baru.

Oppenheimer pun mengungkapkan, kisah-kisah banjir lebih banyak lagi terdapat di Asia Tenggara. Variasinya sangat bermacam-macam pada berbagai suku pedalaman di Indonesia, Malaysia, Filipina dan pulau-pulau di Polinesia.

Tingkat keberagaman cerita banjir di kawasan ini pun membuat Oppenheimer berteori, kalau bangsa yang terpaksa berimigrasi akibat banjir besar, tinggal di Indonesia dan sekitarnya. Semua kisah banjir ini menurut Oppenheimer adalah bukti kalau banjir besar di penghujung Zaman Es ini adalah benar adanya.

sumber: detik.com

http://bebekkecil.blogspot.com/2010/10/indonesia-dan-banjir-nabi-nuh.html

Merpati Dan Global Positioning System (GPS)

Merpati Dan Global Positioning System (GPS)!!

Sabtu, 12 Februari 2011

Pengkajian sistem pemandu arah secara magnetik pada merpati serta merta mengingatkan kita pada Sistem Penentuan Letak di Bumi, atau yang biasa diistilahkan dengan Global Positioning System (GPS). GPS adalah sistem pengindraan satelit yang digunakan dalam menentukan letak keberadaan suatu benda. Dalam sistem ini, satelit yang sedikitnya berjumlah 24 buah digunakan. Penggunaan GPS, yang dibuat dan dikendalikan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, terbuka untuk siapa pun dan tanpa dipungut biaya.

Sistem ini terdiri atas tiga unsur: ruang angkasa, pengendali dan pengguna. Unsur ruang angkasa merujuk pada satelit-satelit GPS. Unsur pengendali merujuk pada stasiun-stasiun bumi yang berada di berbagai tempat di bumi. Stasiun-stasiun ini mengawasi peredaran satelit, menyelaraskan perangkat-perangkat penunjuk waktu yang sangat peka pada satelit, dan memasukkan ke dalam satelit informasi yang akan diteruskannya. Unsur pengguna terdiri dari penerima GPS. Penerima GPS menerjemahkan kode sinyal-sinyal yang datang dari beberapa satelit dan menentukan letak tersebut. Letak ini ditentukan berdasarkan teknik yang dikenal dengan istilah trilaterasi (trilateration).

Kemiripan yang luar biasa

Sejumlah kemiripan dalam hal cara kerja dapat ditemukan antara sistem GPS dan sistem penentuan letak secara magnetik yang dimiliki oleh merpati. Keduanya memiliki sarana yang memungkinkan pengiriman data tentang letak pada permukaan bumi. Pada GPS, data dari satelit diteruskan melalui atmosfer, sebaliknya pada merpati fungsi tersebut diyakini diperankan oleh medan magnet bumi. Keduanya memiliki sistem yang dapat menangkap dan mengenali data-data (sinyal-sinyal) yang datang dari luar ini; yaitu panel-panel pada satelit dan sel-sel yang mengandung butiran-butiran magnetik pada paruh merpati. Sistem yang menafsirkan data-data ini juga terdapat pada keduanya. Pada GPS pengukuran geometris dilakukan oleh komputer dan perangkat digital lainnya (sebagaimana pada teknik trilaterasi yang dipaparkan di atas), sedangkan pada merpati otak melakukan tugas menafsirkan sinyal-sinyal yang diteruskan organ pengindra kepadanya.

Selain itu kini banyak perusahaan penerbangan memasang GPS pada pesawat-pesawat mereka, dengan menyatukan perangkat tersebut pada sistem pengendali penerbangan mereka. Fakta bahwa sel-sel merpati yang mengandung butiran-butiran magnetik telah ditempatkan pada paruhnya, sebagaimana sistem penerbangan elektronik yang ditempatkan pada hidung pesawat, merupakan sebuah kemiripan yang sangat penting.

Sama sekali tidak ada keraguan bahwa sistem GPS dan seluruh satelitnya dan sistem pengendali di bumi telah dirancang secara khusus. Sistem ini tersusun atas bagian-bagian yang dirancang dan dipersiapkan untuk melakukan tugas khusus dan membentuk keseluruhan sistem tersebut. Perangkat-perangkat elektronik yang banyak pada satelit dan berbagai sistem pengendali bekerja secara bersama secara selaras untuk tujuan yang satu ini.

Sistem penentuan letak pada merpati juga mencerminkan petunjuk nyata adanya perancangan semacam itu. Sel-sel yang berisi butiran-butiran magnetik yang memungkinkan adanya hubungan dengan medan magnet bumi, saraf-saraf yang meneruskan data yang ditangkap oleh sel-sel tersebut, dan otak yang menafsirkan semua data tersebut, bekerja bersama dalam keselarasan sempurna. Berkat semua hal inilah sang burung mampu menentukan secara tepat letak rumahnya yang berjarak ribuan kilometer dari tempat ia berada dengan perhitungan yang benar-benar cermat. Ini benar-benar merupakan keahlian sempurna, sebab jika dilihat dari jarak ribuan kilometer yang ditempuh oleh merpati, rumahnya tidaklah lebih dari sebuah titik yang teramat kecil.

Kategori: Harun Yahya, News, Science |

http://www.ad4msan.com/2011/02/merpati-dan-global-positioning-system_12.html

SOELAIMAN AS dan BURUNG HUD-HUD YANG MU’MIN DAN AMANAH

SOELAIMAN AS dan BURUNG HUD-HUD YANG MU’MIN DAN AMANAH

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ ﴿٢٠﴾

020. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (An-Naml)

لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ ﴿٢١﴾

021. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". (An-Naml)

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ ﴿٢٢﴾

022. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, (An-Naml)

إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ ﴿٢٣﴾

023. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. (An-Naml)

وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ ﴿٢٤﴾

024. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, (An-Naml)

أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ﴿٢٥﴾

025. Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. (An-Naml)

BURUNG HUD-HUD PERCAYA HANYA ALLAH TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ﴿٢٦﴾

026. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar". (An-Naml)

{س} قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿٢٧﴾

027. Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. (An-Naml)

اذْهَب بِّكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ ﴿٢٨﴾

028. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan" (An-Naml)

SURAT YANG DIBAWA BURUNG HUD-HUD SAMPAI KE RATU SABA

قَالَتْ يَا أَيُّهَا المَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ ﴿٢٩﴾

029. Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. (An-Naml)

إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿٣٠﴾

030. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (An-Naml)

Jumat, 29 April 2011

Isra Mi'raj Terjadi sebelum Hijrah ke Madinah

Isra dan Mi'raj (Tahun Pertama Sebelum Hijrah ke Madinah)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Isra Mi'raj (Arab:الإسراء والمعراج‎, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāğ) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.
Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi[1] dan mayoritas ulama,[2] Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri[3] menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi'raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.
Peristiwa Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam "diberangkatkan" oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Isra_dan_Mi'raj

BUDAYA (MACOPAT) NUSANTARA mulai terkikis

02:14 April 30, 2011

PASURUAN, KOMPAS.com--Djojotruno (60) bisa disebut menjadi salah seorang yang menjadi benteng terakhir yang masih mempertahankan tradisi macapat di Puspo, Pasuruan, Jawa timur.
Di wilayah Puspo kini hanya tinggal dua orang yang masih setia melestarikan tradisi macapat, yakni Djojotruno, dan Suwandi, yang sama-sama memasuki usia lanjut.
Baik Djojotruno maupun Suwandi sama-sama mengaku pada ANTARA, Jumat, bahwa mereka tidak mempunyai lagi keturunan yang bersedia melestarikan macapat.
Kedua pewaris tradisi macapat itu bisa disebut sebagai benteng terakhir penjaga tradisi macapat di Puspo. Selain usianya yang telah mulai udzur, keduanya tidak mempunyai keturunan yang bersedia melanjutkan tradisi yang diwariskan dari nenek moyangnya.
Baik Djojotruno maupun Suwandi menjadi pelestari tradisi macapat secara turun temurun dari kekeknya. Keduanya yang masing-masing mempunyai anak tunggal dan tidak ada yang bersedia melanjutkan tradis macapat yang ditekuni orangtuanya.
"Anak lelaki saya yang merupakan anak satu-satunya yang telah berkeluarga, tidak bisa melanjutkan tradisi macapat karena tidak bisa dan tidak berminat," ungkap Djojotruno.
Kondisi serupa juga dialami Suwandi. Anak lelaki satu-satuinya Suwandi yang juga telah berkeluarga juga tidak bisa dan tidak berminat melestarikan tradisi macapat.
Praktis kini di Puspo hanya tinggal dua orang saja yang masih setai melestarikan tradisi macapat, yakni Djpojotruno, dan Suwandi. Keduanya bisa disebut sebagai benteng terakhir p[elestari tradisi macapat di Puspo.
Djojotruno menjelaskan, tradisi macapat sebenarnya masih diminati warga Puspo. Ia mengaku masih sering mendapat "job" macapat bersama Suwandi pada acara-acara syukuran khitanan, pernokahan, kelahiran bayi, ruweatan, atau pindahan rumah, dan bahkan siaran di radio.
"Hanya saja peminat yang bersedia untuk menjadi pembaca tidak ada lagi," kata Djojotruno.
Ia menjelaskan, pelestarian tradisi macapat secara tradisi berkembang secara turun temurun. Djojotruno mengaku mampu macapat lantaran keturunan dari orang tua, dan para leluhurnya.
Editor: jodhi

Sumber: kompas

Klangenan Perkutut

Klangenan Perkutut

Kegemaran memelihara Perkutut merupakan warisan budaya leluhur
yang perlu dilestarikan, karena di dalamnya mengandung
nilai-nilai ajaran yang adiluhung sifatnya. Para leluhur kita,
khususnya orang Jawa, telah menempatkan burung Perkutut begitu
terhormat dibanding jenis burung yang lain. Burung Perkutut
dianggap punya tuah mistis yang bisa disejajarkan dengan tuah
mistis pusaka (keris dan azimat lainnya). Berkaitan dengan tuah
mistis Perkutut tersebut leluhur Jawa mewariskan ilmu tentang
katuranggan Perkutut. Berdasar ilmu katuranggan tersebut, bisa
diketahui pengaruh burung Perkutut (yang mempunyai ciri-ciri
tertentu) terhadap pemiliknya. Ada burung yang setengah
dianjurkan untuk dipelihara, ada juga jenis yang tidak boleh
dipelihara oleh sembarang orang.

Memelihara Perkutut pada dulunya lebih cenderung kepada suatu
klangenan. Artinya barang (dalam hal ini, burung) yang dimiliki
bisa memberikan rasa senang dalam batin atau bisa
mempersembahkan keindahan kepada pemiliknya. Dalam bahasa Jawa
Kuno mempersembahkan keindahan istilahnya kalangon atau
kalangwan. Barangkali pula kata klangenan dalam bahasa Jawa kini
berasal dari kata kalangon atau kalangwan tadi.
Sudah barangtentu yang bisa mempunyai klangenan pada waktu dulu
adalah golongan masyarakat priyayi, berduit, atau punya
kedudukan penting di tengah masyarakat. Dengan demikian
pengetahuan tentang Perkutut tidak bisa merambah ke rakyat
jelata. Alasannya, rakyat jelata tidaklah pantas mempunyai
klangenan. Bagi si jelata jatahnya hanya sebagai penangkap
burung (tukang pikat).

Dikarenakan Perkutut sebagai klangenan, maka para penangkap
burung memburu burung yang bagus kualitas suaranya memenuhi
pesanan para priyayi yang tinggal di kota. Sebaliknya para
pemelihara yang menganggap burung yang dipelihara sebagai
klangenan, maka tidak terpikirkan untuk membudidayakan atau
mengembang biakkan dengan cara diternak. Akibatnya Perkutut di
alam bebas semakin langka yang bagus, bahkan cenderung punah.
Kegemaran memelihara Perkutut sebagai klangenan khas Jawa
rupanya telah menular kepada etnis Tionghoa yang tinggal di bumi
Jawa. Barangkali oleh orang Tionghoa yang bernaluri bisnis
tinggi menganggap Perkutut bisa dijadikan sarana berhubungan
dengan kekuasaan yang ada. Dan kalau hubungan dengan kekuasaan
terjadi, maka lancarlah bisnisnya.

Orang-orang Tionghoa memang sangat jeli melihat peluang bisnis.
Begitu mengetahui burung Perkutut di alam bebas Indonesia
mendekati kepunahan, mereka mendatangkan burung Perkutut dari
Thailand. Semula Perkutut Bangkok kurang menarik bagi penggemar
di Indonesia, karena suaranya kurang memenuhi selera. Kesannya
hanya besar tapi tanpa lagu. Para pedagang burung Thailand (yang
kebetulan juga etnis Tionghoa) sangat kreatif untuk memenuhi
selera pasar di Indonesia. Disamping mereka mengekspor burung
ke Indonesia, juga membeli burung dari Indonesia. Perkutut
Indonesia itu kemudian disilangkan dengan Perkutut Bangkok.
Bahkan persilangan begitu berkembang dengan berbagai jenis
Perkutut yang ada di Asia Tenggara. Dan hasilnya burung
Perkutut Bangkok yang di ekspor ke Indonesia bisa memenuhi
selera penggemar di Indonesia. Sampai saat ini hubungan silang
menyilang Perkutut antara Indonesia dan Thailand terus
berlanjut. Maka semakin menarik dan menjadi tantangan bagi
kita, Bangsa Indonesia, untuk menggeluti Budidaya Perkutut agar
warisan budaya ini bisa dilestarikan.

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/wajaseta/message/2926

Kamis, 28 April 2011

Burung dan Keluarga Soelaiman AS

Burung dan Keluarga Soelaiman AS

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلاً يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ ﴿١٠﴾

010. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (Saba()

وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَّهُ أَوَّابٌ ﴿١٩﴾

019. dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta`at kepada Allah. (Shaad)


وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ ﴿١٦﴾

016. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (An-Naml)



وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ ﴿١٧﴾

017. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (An-Naml)


وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ ﴿٢٠﴾

020. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (An-Naml)


فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ ﴿٧٩﴾

079. maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. (Al-Anbiyaa)

Buah Pahit (Biji Mangrove) dan Manfaatnya

Biji Mangrove Tameng Sengatan Ultraviolet

02 Ags 2008 06:57

MANGROVE tidak hanya bermanfaat untuk 'penjaga' pantai ketika ombak tinggi menerjang laut. Mangrove atau tanaman bakau ternyata mempunyai khasiat sebagai tabir surya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Linawati Hardjito, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), telah membuktikan manfaat biji mangrove untuk melindungi kulit manusia dari sengatan sinar matahari.

Linawati dalam penjelasannya mengatakan sebetulnya pemanfaatan biji mangrove untuk tabir surya sudah dilakukan bertahun-tahun masyarakat di Bugis. "Setiap kali para nelayan akan melaut, mereka melumuri bagian tubuh yang terpapar matahari dengan bedak cair yang terbuat dari biji mangrove," kata Linawati di Jakarta, Rabu (30/7).

Tidak hanya pada masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, saja yang memanfaatkan biji mangrove untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. Pada masyarakat Ternate, biji mangrove dijadikan ekstrak untuk mencegah kanker rahim.

Biji mangrove yang terdapat di dalam buah mangrove mengandung antioksidan dan bahan aktif untuk melindungi kulit dari sengatan sinar ultraviolet. "Dari hasil penelitian kami hingga praklinis membuktikan bahwa biji mangrove (Xylocarpus granatum) mengandung flavonoid dan tanin. Manfaatnya sangat besar untuk mencegah terjadinya kanker kulit akibat sering terpapar sinar matahari," kata Linawati.

Penelitian yang dilakukannya sejak 2003 itu menjadi salah satu penelitian unggulan tingkat internasional hingga Kementerian Riset dan Teknologi pun membiayai penelitian itu.

Lebih lanjut Linawati menjelaskan biji mangrove itu diolah menjadi ekstrak dan diberi zat tambahan lainnya untuk dijadikan krim tabir surya. "Ekstrak biji mangrove mengandung sun protector filter (SPF) 22. Sementara itu, standar nasional Indonesia (SNI) untuk tabir surya SPF-nya minimal 15. Maka tabir surya dari mangrove itu lebih dari cukup untuk melindungi kulit dari sengatan matahari."

Uji coba telah dilakukannya pada para mahasiswanya untuk mencoba krim tabir surya buatannya. Krim tabir surya itu warnanya mirip dengan warna kulit dan tidak memakai bahan pengawet. Sedangkan baunya, mirip bau mangrove.

Linawati masih akan menyempurnakan soal bau, agar lebih harum sehingga lebih disukai konsumen. "Karena ini bahan alami dan warisan tradisional, terbukti tidak menimbulkan efek samping."

Ekstrak biji ternyata juga mengandung bahan polar dan nonpolar, sehingga dapat digunakan sehari-hari maupun saat berenang.

Menariknya, temuan Linawati itu telah diincar perusahaan asing dari Jerman. Saat itu pengusahanya meminta agar ia menjual dalam skala lisensi. Namun Lina menolak. "Temuan itu sudah saya patenkan. Saya baru mencari investor untuk bisa memasarkan produk ini. Selama ini produk masih terbatas dijual di kampus IPB saja."

Apabila produknya itu bisa diproduksi secara massal, Linawati pun bercita-cita mendirikan perusahaan kosmetika yang digali dari pengetahuan lokal masyarakat.

"Biasanya memang berhasil. Penelitian saya ini pun bisa berhasil 90%, karena semuanya berdasarkan pengalaman masyarakat yang sudah turun-temurun menggunakan biji mangrove untuk tabir surya. Jadi saya menginginkan temuan saya ini meski tradisional tapi modern, dan berdasarkan kajian ilmiah, lewat riset."

Lina juga akan berangkat ke Paris November tahun ini. Kedatangannya ke Paris, Prancis untuk menghadiri pameran berskala internasional. Dan temuan Lina ini pun dalam rangka untuk mendapat pengakuan internasional. (Cornelius Eko/H-2)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/

Antara Perkutut Dan Falsafah Jawa

Antara Perkutut Dan Falsafah Jawa


Antara Perkutut Dan Falsafah Jawa, Penggemar perkutut di Indonesia umumnya orang dari suku Jawa, Madura, Bali, Lombok, Minang dan Cina. Khusus penggemar dari suku Jawa, penghayatan akan kesenangannya terhadap perkutut sangat mendalam. Perkutut alias kukilo menjadi pusat perhatian mereka yang menarik, karena tercantum sebagai lambang dalam ajaran filsafah Jawa “Hastabrata“, yang meliputi:


1. Karyo (pekerjaan)

2. Garwo (istri)

3. Wismo (rumah)

4. Curigo (keris)

5. Turonggo (kuda)

6. Kukilo (perkutut)

7. Waranggana (pesinden, penyanyi)

8. Pradonggo (gamelan)

Dari asas dasar falsafah inilah nilai nilai perkutut dalam kebudayaan Jawa berkembang, sehingga burung  ini dianggap penggemarnya memiliki nilai luhur yang lebih tinggi dari manusia biasa. Ditengah masyarakat Jawa, kegemaran memelihara perkutut banyak dilakukan oleh para pembesar dan pemuka masyarakat, pejabat pemerintahan, keluarga bangsawan, pdagang kaya, pengusaha, dokter, dan lain lain. Perkutut dikalangan mereka menjadi ajang prestise.


1. Melatih Kesabaran

Memelihara perkutut muda (piyikan, bakalan) sampai menjadi burung dewasa yang pandai manggung membutuhkan waktu lama (5-10 tahun) untuk perkutut lokal. Hal ini bagi pemelihara memberikan latihan bersikap sabar dan ulet.
Setiap perkutut memiliki temperamen berbeda beda terhadap kecocokan sangkar, makanan, tempat gantungan sangkar, dan lain lain. Hal ini berguna untuk melatih si pemelihara untuk bersikap teliti, awas, tahu kehendak dan berlaku halus terhadap makluk dan orang lain. Otomatis ia dilatih untuk membina diri untuk bersikap sabar dan ulet.
Cara pemeliharaan yang keliru, bisa membuat perkutut yang telah berbunyi mogok bernyanyi. Memulihkannya pasti membutuhkan waktu lama.


2. Menjalin hubungan baik

Dahulu lomba perkutut dilakukan orang pada musim sehabis panen padi (musim kemarau). Saat itu kesibukan bertani sangat berkurang. suatu kelompok penggemar perkutut melakukan lomba secara gotong royaong.
Kegiatan itu ternyata mencipta  hubungan yang erat dan harmonis antara pemuka masyarakat dengan bawahannya, disamping terjalinnya tali persaudaraan antara orang orang yang belum dikenal dan yang tinggal ditempat jauh. Selain itu juga menimbulkan pembinaan moral yang tinggi (saling menghargai, sportif, salaing mengerti), rasa kebersamaan dan senasib, saling tahu sifat dan kemampuan masing masing orang (mempertinggi sikap waspada), dan melatih diri agar bekelakuan positif.



laskar-keraton-penyerahan-piala-raja

Kalau ditarik kesimpulan, hobi memelihara perkutut bisa memberikan manfaat sebagai berikut:


1. Merangsang gairah menghargai dan mencintai alam, khususnya dunia perburungan.

2. Memperluas dan mempererat hubungan persaudaraan antar manusia, melatih berorganisasi dan disiplin.

3. Membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat lemah ekonomi seperti pengraji sangkar, petani penghasil makanan burung, dan pedagang burung.

4. Obyek hiburan untuk mengurangi kekosongan batin dan obat stres bagi memreka yang telah melakukan kerja keras atau sibuk melaksanakan tugas rutinnya.

.


Sajak Jawa

Untuk mengetahui betapa besar pengaruhperkutut terhadap kehidupan pemeliharanya bisa dilihat pada sajak Jawa, berikut terjemahannya.
INGON-INGON PERKUTUT NGEDOHI SETAN
Manawa kasawang saka ilmu jiwa
ingon-ingon manuk perkutut iku ora baen-baen,
sebab kajaba kalebu golongane “Seni Swara”,
ugoa mukarabi marang panggulawentah,
sarta bisa mahanani katentreman.
Priyayi kang seneng kekututan
daleme mesti tata-tertip,
patrap-patrap kang biyayakan,
rembug-rembug kang sora lan kasar,
mesti ora ana,
sakawit ya mung sabab pangeman marang sang kutut,
nanging ora njarak
jebul ndayani marang tata tertib.
Sapa kang ingon-ingon perkutut,
mesti tangi esuk,
sakawit ya mung tumuju marang sang perkutut,
bisaa nggantang ing sadurunge srengenge mletek,
nanging lawase lawas
dadi pakulinan … tangi esuk.
Dina minggu, liburan,
ora kluyuran mrana-mrene,
ora dolan-dolan kang tanpa gawe,
sakawit ya mung arep ngematake anggunge sang perkutut,
naging lawase lawas,
dadi pakulinan … jenak ana ndalem.
Pikolehe kang ceta,
ingon-ingon perkutut nyiyutake pandulu,
ngedohi setan
kang tansah nggegalak racak.
[Disarikan dari "Pangrumate Manuk Perkutut" dalam buku Tangguhe-Candrane lan Jamune Perkutut]
.
HOBI PIARA PERKUTUT MENJAUHI SETAN
Kalau ditilik dari suduk ilmu jima,
hobi piara perkutut bukan pekerjaaan remeh,
selain tergolong “seni suara”,
hobi itu bermanfaat untuk membina budi pekerti,
dan berpengaruh menciptakan ketenteraman hati.
Orang yang hobi piara perkutut,
suasana rumah tangganya pasti tertib,
sikap dan tindakan yang kurang baik,
kata-kata yang keras dan kasar,
pasti terbuang jauh dari rumah,
semula hanya karena rasa sayangnya terhadap perkututnya,
tetapi tidak terduga,
bisa berpengaruh besar terhadap timbulnya tata tertib
didalam rumah.
Siapa un yang hobi piara perkutut,
pasti rajin bangun pagi,
semula tindakan itu semata hanya teringat
pada perkututnya saja,
agar bisa menggantang burungnya sebelum matahari terbit,
tetapi lama kelamaan terbiasa untuk .. bangun pagi.
Hari Minggu, libur
penggemar perkutut tetap dirumah,
tidak pergi kemana-mana
tidak akan melakukan sesuatu yang tiada guna.
Semula tindakan itu berpangkal hanya
ingin menikmati suara perkututnya.
Tetapi lama-kelamaan terbiasa betah tinggal dirumah.
Hasil nyata
hobi piara perkutut bisa membebaskan orang
dari keinginan yang tidak-tidak
dan menjauhkan pengaruh setan
yang senantiasa menggoda untuk berbuat
yang bukan-bukan.


http://bang-bangkit.blogspot.com/2011/03/antara-perkutut-dan-falsafah-jawa.html

ARUS TSUNAMI dan SAILUN ARYM (ARUS BESAR) dalam SURAT SABA

Surat SABA Ayat 16  



فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir (ARUS) yang besar ( dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon sidr].


http://id.wikipedia.org/wiki/Arus_air_laut

Arus air laut



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

ARUS AIR LAUT adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horisontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan dunia[1]. Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan tiupan angin atau perbedaan densitas atau pergerakan gelombang panjang[2]. Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain arah angin, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas air, gaya Coriolis dan arus ekman, topografi dasar laut, arus permukaan, upwellng , downwelling.



Semua dunia arus pada peta laut yang berkesinambungan

Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga faktor, yaitu[3] :

Bentuk Topografi dasar lautan dan pulau – pulau yang ada di sekitarnya : Beberapa sistem lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan pula oleh arus equatorial counter di sisi yang keempat. Batas – batas ini menghasilkan sistem aliran yang hampir tertutup dan cenderung membuat aliran mengarah dalam suatu bentuk bulatan.

Gaya Coriollis dan arus ekman : Gaya Corriolis memengaruhi aliran massa air, di mana gaya ini akan membelokkan arah mereka dari arah yang lurus. Gaya corriolis juga yangmenyebabkan timbulnya perubahan – perubahan arah arus yang kompleks susunannya yang terjadi sesuai dengan semakin dalamnya kedalaman suatu perairan.

Perbedaan Densitas serta upwelling dan sinking : Perbedaan densitas menyebabkan timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan kutub utara ke arah daerah tropik.

Adapun jenis – jenis arus dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :

Berdasarkan penyebab terjadinya
Arus ekman : Arus yang dipengaruhi oleh angin.
Arus termohaline : Arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi.
Arus pasut : Arus yang dipengaruhi oleh pasut.
Arus geostropik : Arus yang dipengaruhi oleh gradien tekanan mendatar dan gaya coriolis.
Wind driven current : Arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada lapisan permukaan.

Berdasarkan Kedalaman
Arus permukaan : Terjadi pada beberapa ratus meter dari permukaan, bergerak dengan arah horizontal dan dipengaruhi oleh pola sebaran angin.
Arus dalam : Terjadi jauh di dasar kolom perairan, arah pergerakannya tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin dan mambawa massa air dari daerah kutub ke daerah ekuator.

http://id.wikipedia.org/wiki/Arus_air_laut

ARUS LAUT

Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari beberapa gaya yang bekerja dan beberapa factor yang mempengaruhinya. Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping).

Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi. Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke kiri di belahan bumi selatan.

Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman (Pond dan Pickard, 1983).



Menurut Gross 1972, arus merupakan gerakan horizontal atau vertikal dari massa air menuju kestabilan yang terjadi secara terus menerus. Gerakan yang terjadi merupakan hasil resultan dari berbagai macam gaya yang bekerja pada permukaan, kolom, dan dasar perairan. Hasil dari gerakan massa air adalah vector yang mempunyai besaran kecepatan dan arah. Ada dua jenis gaya yang bekerja yaitu eksternal dan internal Gaya eksternal antara lain adalah gradien densitas air laut, gradient tekanan mendatar dan gesekan lapisan air (Gross,1990)

Pond dan Pickard 1983 mengklasifikasikan gerakan massa air berdasarkan penyebabnya, terbagi atas :

a. Gerakan dorongan angin

Angin adalah factor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali.

b. Gerakan termohalin

Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salinitas anatara 2 massa air  yang densitasnya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
 
c.Arus Pasut

Arus yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dan benda benda angkasa. Arus pasut ini merupakan arus yang gerakannya horizontal.

d. Turbulensi

Suatu gerakan yang terjadi pada lapisan batas air dan terjadi karena adanya gaya gesekan antar lapisan.

e. TSUNAMI

Sering disebut sebagai gelombang seismic yang dihasilkan dari pergeseran dasar laut saat terjadi gempa.

f. Gelombang lain ; Internal, Kelvin dan Rossby/Planetary

Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut. Faktor pembangkit arus permukaan disebabkan oleh adanya angin yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter (Bernawis,2000)

Oleh karena dibangkitkan angin, arah arus laut permukaan (atas) mengikuti arah angin yang ada. Khususnya di Asia Tenggara karena arah angin musim sangat terlihat perubahannya antara musim barat dan musim timur maka arus laut permukaan juga banyak dipengaruhinya. Arus musim barat ditandai oleh adanya aliran air dari arah utara melalui laut Cina bagian atas, laut Jawa, dan laut Flores. Adapun pada musim timur sebaliknya mengalir dari arah selatan.

Selain pergerakan arah arus mendatar, angin dapat menimbulkan arus air vertikal yang dikenal dengan upwelling dan downwelling di daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu proses massa air yang didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas. Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer, maka kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan suhu air permukaan lainnya. Walaupun sedikit oksigen, arus ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan fosfat sehingga cederung mengandung banyak fitoplankton. Fitoplankton merupakan bahan dasar rantai makanan di lautan, dengan demikian di daerah upwelling umumnya kaya ikan.

Pustaka

Bernawis, Lamona I. 2000. Temperature and Pressure Responses on El-Nino 1997 and La-Nina 1998 in Lombok Strait. Proc. The JSPS-DGHE International Symposium on Fisheries Science in Tropical Area.
Gross,M.G.1990.Oceanography : A View of Earth. Prentice Hall, Inc. Englewood Cliff. New Jersey.
Pond, S dan G.L Pickard. 1983. Introductory dynamical Oceanography. Second edition. Pergamon Press. New York.



Penulis

Yogi Suardi, Lahir di Penyalai Riau 4 Januari 1987. Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB Angkatan 42

KATA SAILUN DALAM AL-QUR'AN

SAILUN

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ ﴿١٧﴾

017. Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka MENGALIRLAH air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka ARUS itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Ar-Ro’ad).


فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾

016. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka BANJIR yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (Saba)



وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ ﴿١٢﴾

012. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami ALIRKAN cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya
menyala-nyala (Saba).

Rabu, 27 April 2011

Kerajaan Soelaiman AS tanpa putra mahkota

Missing Link Setelah Kerajaan Sulaiman (terputus kekuasaan kerajaan besar setelah kerajaan Soelaiman AS)

Inilah do'a Sulaiman AS yang meminta untuk tidak akan mewariskan kerajaan pada siapapun setelahnya.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ﴿٣٥﴾

035. Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi".

(Shaad)

Wabah Ulat Bulu dan Mu'jizat Soelaiman AS

Minggu, 03/04/2011 16:56:22WIB

Ribuan Burung Diterbangkan Melawan Jutaan Ulat Bulu di Probolinggo

Bayu Adi Wicaksono

Probolinggo - Untuk membasmi serangan jutaan ulat bulu yang kini telah menyerang 8 kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sejumlah warga yang tergabung dalam warga peduli lingkungan Kabupaten Probolinggo, melepaskan ribuan ekor burung berbagai jenis di alun-alun kota Probolinggo.

Ribuan ekor burung yang dilepaskan warga terdiri dari burung jenis Cendet, Kutilang, Pipit, Ulak-Ulak dan burung Cekrucuk. Pelepasan ribuan burung tersebut adalah salah satu upaya warga Kabupaten Probolinggo untuk membasmi jutaan ulat bulu.

Menurut Mahdi, Koordinator Lapangan peduli lingkungan Probolinggo, burung dipilih sebagai mesin pembasmi ulat karena burung merupakan binatan predator pemangsa ulat bulu. "Kita berharap burung yang dilepaskan dapat menyerang dan memangsa ulat bulu agar tercipta keseimbangan ekosistem," jelas Mahdi.

Mahdi menjelaskan, pelepasan ribuan burung tidak hanya dilakukan di alun-alun Probolinggo saja, Mahdi dan teman-temanya telah menyiapkan ribuan ekor burung lainnya untuk di lepas di 12 titik wilayah yang telah diserang jutaan ulat bulu.

Sebelumnya berbagai upaya telah dilakukan masyarakat dan Pemkab prbolinggo untk membasmi ulat bulu. Seperti dengan penyemprotan dan perburuan ulat bulu. Bahkan, beberapa hari lalu, sejumlah orang yang mengaku sebagai pawa ulat bulu juga berupaya secara sukarela membasmi ulat bulu dengan cara kebathinan.

Namun, hingga saat ini, upaya-upaya itu masih belum menampakan hasil, karena sejak beberapa hari belakangan, serangan jutaan ulat bulu justru meluas hingga ke 8 wilayah kecamatan di Kabupaten Probolinggo.

(baw/baw)


http://m.today.co.id/index.php?kategori=nasional&sub=regional&detail=22122


Cegah Ulat Bulu, Warga Lepas Burung dan Taburkan Abu Gosok  

TEMPO Interaktif, Sidoarjo -Warga Sidoarjo melepaskan ratusan ekor burung berbagai jenis ke alam. Hal ini dilakukan untuk mencegah ledakan populasi ulat bulu yang menyerang beberapa daerah di Jawa Timur, Rabu (13/4). Pelepasan burung ini diprakarsai oleh laboratorium kesehatan Parahita Diagnostic Center Sidoarjo. "Burung adalah predator alami ulat," kata Kepala Parahita Diagnostic Center Sidoarjo Mizan Tamimy.

Ia berharap burung pemangsa ulat ini mampu mengendalikan populasi wabah ulat secara alami. Menurut dia, dengan mengembalikan keseimbangan mata rantai makanan tersebut diharapkan tak terjadi wabah ulat bulu di Sidoarjo.

Selain itu, mereka juga membagikan abu gosok sebagai pestisida alami kepada warga Sidoarjo. Tujuannya untuk mencegah berkembangnya wabah ulat bulu di tanaman sekitar rumah. Caranya, abu gosok ditabur ke tanah dan rumput yang menjadi tempat berkembangnya ulat bulu.

Sementara, Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid menjelaskan wabah ulat buru meledak akibat perburuan burung pemangsa serangga termasuk ulat. Di antaranya jenis burung jalak, prenjak dan cinenen. "Jika predator alami cukup di alam. Serangan ulat bulu bisa dicegah," ujarnya.

Menurut dia, populasi burung predator serangga ini banyak terjadi di Probolinggo, Jember dan Banyuwangi. Burung tangkapan di alam ini dijual ke pasar burung untuk kepentingan industri perdagangan burung berkicau. Setiap bulan diperkirakan lebih dari 10 ribu ekor burung ditangkap. Penangkapan dilakukan terus menerus tanpa diimbangi penangkaran menyebabkan ekosistem tak seimbang. "Mereka menggunakan jaring besar," ujarnya.

Metode penangkapan dan penyimpanan tak benar, akibatnya 40 persen burung mati setelah ditangkap. ProFauna mencatat, populasi sejumlah jenis burung di Probolinggo, Banyuwangi sekitar Taman Nasional Baluran dan perbatasan Taman Nasional Meru Betiri hilang.

EKO WIDIANTO

http://m.tempointeraktif.com/2011/04/13/327252/

Wabah Ulat Bulu dan Penangkapan Berlebihan Burung Berkicau, Tokek dan Kroto Semut

Oleh: Sudirman Asun | 15 April 2011 | 14:01 WIB




Merebaknya serangan ulat bulu di sejumlah daerah Indonesia terakhir ini disinyaril akibat rusaknya keseimbangan rantai makanan.
Hilangnya populasi predator alami di alam liar membuat ledakan populasi ulat bulu.
Predator pemakan ulat seperti burung, tokek, dan kroto semut rangrang, menjadi komoditas ekonomi yang mempunyai harga yang cukup tinggi di pasaran membuat perburuaan hewan ini pada ambang batas yang menkhawatirkan.

Peningkatan populasi burung liar di alam bebas pernah meningkat pada waktu heboh penyebaran flu burung, sehingga penggemar burung berkicau menurun dan permintaan di pasaran merosot tajam.
Sudah menjadi hal yang langka bahwa kita masih bisa menikmati kicauan burun liar di pepohonan halaman rumah kita seperti burung Kutilang, burung Prenjak, burung Ciblek yang pada 10 tahun yang lalu masih sering kita dapatkan berkeliaran bebas di sekitar lingkungan rumah kita.

Hal serupa juga terjadi pada hewan Tokek mirip Cecak besar, hewan yang dulu biasa gampang kita jumpai pada rumah-rumah penduduk maupun pepohonan, di pasaran laris manis dengan harga 10-15 ribu rupiah/ekor.
Tokek dipercaya merupakan obat mujarab untuk penyakit kulit, dan permintaan luar negeri komoditi ini untuk ekspor sangat tinggi.

Sedangkan kroto/ larva semut Rangrang merupakan pakan favorit burung berkicau dan campuran untuk umpan memancing laku di pasaran dengan harga 75-150 ribu Rupiah/Kg.

Sudah saatnya kita memikirkan bagaimana menangkarkan komoditi - komoditi ini, sehingga penangkapan berlebihan di alam bisa dikurangin, dan keseimbangan ekosistem tidak terganggu dan terjaga.

http://m.kompasiana.com/post/regional/2011/04/15/wabah-ulat-bulu-dan-penangkapan-berlebihan-burung-berkicau-tokek-dan-kroto-semut/


Burung dan Mu'jizat Sulaiman
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلاً يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ ﴿١٠﴾

010. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (Saba()

وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَّهُ أَوَّابٌ ﴿١٩﴾

019. dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta`at kepada Allah. (Shaad)


وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ ﴿١٦﴾

016. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (An-Naml)



وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ ﴿١٧﴾

017. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (An-Naml)


وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ ﴿٢٠﴾

020. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (An-Naml)


فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ ﴿٧٩﴾

079. maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. (Al-Anbiyaa)

Mistery Lokasi Masjidil Aqsha

Mistery Lokasi Masjidil Aqsha

LOKASI 3 KITAB YANG DITURUNKAN HANYA DALAM RADIUS 
LINGKARAN JARAK 1.230 KM. 
(JARAKNYA DEKAT)




سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١﴾

O1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Al-Israa')

Kisah Isra' dan Mi'raj pada 14 abad lampau masih misteri dimana peristiwa itu terjadi pada "AMUL HOZAN" tahun duka cita setelah wafatnya istri dan pamannya Rasulullah SAW, atau peristiwa Isra' sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah artinya sebelum tahun 622 Masehi waktu itu Masjidil Haram masih berupa tanah lapang dan di kota yang namanya Jerusalem di tahun itu tidak ada bangunan Masjid, sedangkan Masjidil Aqsha yg sekarang banyak dikunjungi dibangun tahun 715 Masehi oleh Walid bin Abdul Malik (jaraknya 100 tahun setelah peristiwa Isra')

Dan ketika itu Umar Bin Khotob dalam penyerahan kunci kota yang namanya Jerusalem di tahun 636 Masehi (14 tahun setelah peristiwa Isra') cuma menemukan tanah lapang berisi puing-puing dan rumput liar, padahal dalam hadist, Nabi menjawab pertanyaan orang Quraish tentang tiang bangunan dengan tepat dan sholat bersama nabi-nabi lain.

Pertanyaannya dimana Masjidil Aqsha letak sebenarnya ? Karena pada tahun 600 an Masehi tanah yg sekarang dibangun Masjidil Aqsha masih tanah lapang.

Mistery kedua :

Disebelah mana negeri yang diberkati ".......menuju Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati di sekelilingnya"

Sejarah kota yang namanya Jerusalem penuh dengan pertumpahan darah dari penguasa Babilonia sejak tahun 587 SM, kemudian diratakan oleh Kaisar Titus dari Romawi awal abad Masehi, kemudian di kuasahi oleh Kaisar Byzantium kemudian Kerajaan Persia, baru tahun 636 Masehi menyerah tanpa pertumpahan darah kepada Umar Bin Khotob_dan sampai sekarang kota yang namanya Jerusalem masih bergejolak.

Pertanyaannya dimana wilayah yang diberkati ?

Sehingga muncul pertanyaan berat : Sebenarnya Masjidil Aqsha yang dimaksud dalam Al-Qur'an dimana ? Karena mempertanyakan tempatnya bukan masalah keimanan, dan mempertanyakan lokasi Masjidil Aqsha (Masjid Terjauh) berarti kita meyakini akan kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj sendiri, walaupun sekarang masih misteri !!! Dimana ia berada ?

(Sumber : Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI-Percikan Sains dalam Al-Qur'an)

Zubar, Zubur dan Zabur

1. ZUBAR

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَاراً قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْراً ﴿٩٦﴾

096. berilah aku POTONGAN-POTONGAN besi" Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu". (Al-Kahfi)

2. ZUBUR

وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ ﴿١٩٦﴾

196. Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam KITAB-KITAB orang yang dahulu. (Asy-Syu’araa’)

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٥٣﴾

053. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah terpecah belah menjadi beberapa PECAHAN. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Al-Mu’minun)

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٤٤﴾

044. keterangan-keterangan (mu`jizat) dan KITAB-KITAB. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (An-Nahl)

وَإِن يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ جَاءتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ ﴿٢٥﴾

025. Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mu`jizat yang nyata, ZUBUR, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. (Faathir)

أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِّنْ أُوْلَئِكُمْ أَمْ لَكُم بَرَاءةٌ فِي الزُّبُرِ ﴿٤٣﴾

043. Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam KITAB-KITAB YANG DAHULU . (Al-Qomar)

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ ﴿٥٢﴾

052. Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam BUKU-BUKU CATATAN. (Al-Qomar)


فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ جَآؤُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ ﴿١٨٤﴾

184. Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mu`jizat-mu`jizat yang nyata, ZABUR dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. (Ali-Imraan)


3. KITAB ZABUUR

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً ﴿١٦٣﴾

163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma`il, ishak, Ya`qub dan anak cucunya, `Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan ZABUR kepada Daud. (An-Nisaa)

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً ﴿٥٥﴾

055. Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan ZABUR (kepada) Daud. (Al-Israa)

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ ﴿١٠٥﴾

105. Dan sungguh telah Kami tulis di dalam ZABUR sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al-Anbiyaa’)

Selasa, 26 April 2011

Apa Korelasinya Hud-Hud Dan Hadist Saba ?

Apa Korelasinya Penemuan Hud-Hud Dan Hadist Tentang Saba ?

1. Hadist Tentang Saba

"Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Saba' Apakah Ia sesungguhnya? Apakah ia seorang laki-laki, atau wanita, atau nama sebuah negeri?. Rasulullah SAW menjawab, Ia adalah seorang laki-laki yang memiliki 10 anak, kemudian enam diantaranya mendiami Yaman dan empat diantaranya mendiami negeri Syam. Orang-orang yang mendiami Yaman adalah Mazhij, Kindah, Al-Azd, Al-Asy'aruyyun, Anmar dan Himyar, semuanya adalah bangsa Arab. Sedangkan orang-orang yang mendiami negeri Syam adalah Lakhm, Juz'am, Amilah dan Gassan" (Hadist Riwayat. Ahmad dan Hakim dan dia menyatakannya sahih)

2. Penemuan Hud-Hud
Tentang Negeri Saba.

[Surat 34 Ayat 15] Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun"

[Surat 27 Ayat 22] Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba, suatu berita penting yang diyakini.

[Surat 27 Ayat 23] Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

[Surat 27 Ayat 24] Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

Apa ada Korelasinya ?

Tidak ada korelasi

1. Penjelasan hadist tentang seorang laki-laki dan 10 laki-laki anaknya.

2. Penjelasan Hud-Hud tentang suatu negeri yang dipimpin oleh seorang perempuan yang mempunyai singgasana (Ia adalah Ratu (perempuan))

Pertanyaannya apa alasannya negeri Saba ditempatkan di negeri Yaman ?

Indonesia Negeri Gempa ?

Duh! Ada 80 Ribu Potensi Gempa di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA-- Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 yang beranggotakan sembilan orang atau Tim-9 memetakan 80 ribu potensi gempa kecil, sedang, dan besar di Indonesia untuk kurun 2.500 tahun.

"Kalau potensi tsunami terjadi di sisi barat Sumatera dan sisi selatan Jawa hingga Papua, tapi potensi itu berjarak 150 kilometer dari daratan atau berada di laut," kata Ketua Tim-9 Prof Masyhur Irsyam PhD, di Surabaya, Rabu.

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela sosialisasi "Standar Perencanaan Ketahanan Gempa yang Baru di Indonesia (RSNI 1726-XXXX)" dengan Ketua Tim Struktur SNI 1726-201X Prof Ir Bambang Budiono ME PhD di UKP Surabaya.

Dalam acara untuk memperingati Dies Natalis ke-50 UKP itu, Guru Besar Teknik Sipil ITB itu menjelaskan peta gempa di Indonesia tahun 1983 dan 2002 membagi wilayah gempa dalam enam zona, tapi saat ini sudah banyak gempa yang terjadi di luar perkiraan.

"Tahun 2004 terjadi gempa di Aceh dengan skala yang di luar perkiraan kita, lalu saat ini banyak sesar bawah tanah yang selama ini belum diperhitungkan," katanya.

Oleh karena itu, katanya, revisi peta gempa Indonesia pun dibentuk yang melibatkan ITB, LIPI, PU, ESDM, dan BMKG dengan dukungan data-data dari pihak asing terkait peta gempa di seluruh dunia.

"Kita juga menggunakan publikasi terakhir dari American Society of Civil Engineers (ASCE) 07-2010, karena itu kita juga mengacu pada ASCE untuk memetakan gempa dalam 2500 tahun, bukan 500 tahun seperti selama ini, termasuk melakukan update peta dalam tiga tahun sekali," katanya.

Hingga kini, tim telah melakukan pemetaan sesar daratan di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Timor, dan Sulawesi. "Untuk Jawa Timur masih belum dikuantifikasi," katanya. Menurut dia, peta gempa itu tidak selalu tepat, namun hal terpenting dari peta gempa adalah kesiapan untuk memperkuat infrastruktur yang ada agar tidak roboh di saat gempa.

"Misalnya, gempa di China dipetakan dalam skala 0,1 G, tapi yang terjadi justru 1 G, kemudian gempa di Jepang dipetakan dalam skala 0,8 G, tapi yang terjadi adalah 3 G," katanya. Namun, katanya, skala yang di luar perkiraan itu mampu menghindari korban dalam jumlah banyak, bahkan korban di Jepang bukan akibat gempa, melainkan terjangan tsunami.

"Untuk itu, Indonesia juga harus belajar banyak dari peta gempa yang dibuat, karena itu kami merekomendasikan kepada pemerintah untuk memperkuat bangunan publik di daerah-daerah yang dipetakan," katanya. Selain itu, pemetaan lanjutan untuk daerah-daerah yang belum dikuantifikasi seperti Jatim dan daerah lainnya perlu dilakukan. "Update peta gempa selama tiga tahun sekali juga perlu," katanya.

Red: Stevy Maradona


http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/04/27/lkai3u-duh-ada-80-ribu-potensi-gempa-di-indonesia

Senin, 25 April 2011

Selain Ada Kota Sleman ada Juga Danau Sleman diseberang Jauh Kota Sleman

Fiza Menguji Adrenalin di Danau Sleman

LAMPUNG, KOMPAS.com - Puteri Indonesia Lingkungan 2009 Zukhriatul Hafizah menguji adrenalin dengan berperahu menyusuri danau selama 30 menit di tengah hutan tropis Tambling, Sumatra. Danau Sei Leiman, atau lebih akrab disebut Danau Sleman, merupakan bagian dari kelengkapan ekosistem di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat.

Kawasan wisata alam dengan misi konservasi ini memang memiliki daya pikat. Pengunjung jadi tertantang untuk menjelajah setiap titiknya. Kami juga mengenal lebih dekat habitat 6 jenis mamalia, beberapa di antaranya bahkan hampir punah, seperti gajah, badak, harimau, kerbau liar, tapir, dan beruang madu.

click to enlarge

Hutan tropis ini menjadi habitat baru dari harimau Aceh yang dilepasliarkan setelah melewati rehabilitasi. Agam dan Pangeran, dua harimau Sumatra, kembali ke alam sejak 2008. Buyung dan Panti, jantan dan betina, menyusul Februari 2010. Begitu pula dengan buaya yang diselamatkan dan dilepasliarkan di kawasan TWNC. Danau di kawasan ini menjadi tempat tinggal baru yang lebih aman untuk hewan predator ini.

"Menantang dan cukup deg-degan menyusuri danau. Kebiasaan hidup di Jakarta kanan-kiri penuh sampah, berbanding terbalik saat mengunjungi Tambling ini, hijau pepohonan dan alami. Seru, meski sedikit ngeri," celoteh Fiza, saat mengunjungi TWNC Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Sumatra, pada 28-29 Maret 2010 lalu.

Menyaksikan keakraban manusia dan alam di kawasan TNBBS menjadi kebanggaan bagi Fiza. Hal ini juga tak hanya karena TNBBS ditetapkan UNESCO sebagai Nature World Heritage Site.

"Pengalaman di Tambling membuat saya tersadar dan merasa bertanggungjawab moral untuk melakukan sesuatu bagi lingkungan. Kesadaran seperti ini perlu disebarluaskan di kota besar. Karena masih banyak orang tak peduli dengan hutan, dan (tak ada) kesadaran untuk menjaganya," papar Fiza.

Masyarakat, menurut Fiza, perlu banyak informasi mengenai pelestarian lingkungan. Ia berandai-andai, dokumentasi penyusuran danau alami di Sumatra ini disandingkan dengan penelusuran Kali Ciliwung sebagai perbandingan bagaimana alam yang terjaga dan terpolusi. Tujuannya tak lain untuk membangun kesadaran dalam memelihara alam.   

⁠Penulis: C1-10 ⁠ ⁠Editor: Dini ⁠

http://m.kompas.com/news/read/2010/04/01/1818253/Fiza-Menguji-Adrenalin-di-Danau-Sleman

PERMULAAN UMAT MANUSIA YANG MENJADIKAN SAPI SESEMBAHAN

PERMULAAN UMAT MANUSIA YANG MENJADIKAN SAPI SESEMBAHAN

وَلَقَدْ جَاءكُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ ﴿٩٢﴾

092. Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mu`jizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Baqoroh)

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَاباً مِّنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهِ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَلِكَ وَآتَيْنَا مُوسَى سُلْطَاناً مُّبِيناً ﴿١٥٣﴾

153. Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (An-Nisa)


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُواْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ ﴿٩٣﴾

093. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)". (Al-Baqorooh)

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِن بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلاً جَسَداً لَّهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّهُ لاَ يُكَلِّمُهُمْ وَلاَ يَهْدِيهِمْ سَبِيلاً اتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَالِمِينَ ﴿١٤٨﴾

148. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al-Araaf)

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلاً جَسَداً لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ ﴿٨٨﴾

088. kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". (Thaahaa)


قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى ﴿٩١﴾

091. Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami. (Thaahaa)

Minggu, 24 April 2011

Fungsi Angin dari Kacamata Harun Yahya

Langit yang Mengembalikan

HARUN YAHYA

Demi langit yang mengandung hujan (QS. Ath Thaariq, 86:11). Kata yang ditafsirkan sebagai 'mengandung hujan' dalam terjemahan Alquran ini juga bermakna 'mengirim kembali' atau mengembalikan.
Seperti diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri atas sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi pengembalian dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.
• Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.
• Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
• Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Alquran. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Alquran adalah firman Allah.
Dalam sebuah ayat Alquran pun disebutkan sifat angin yang 'mengawinkan' hingga terbentuknya hujan.
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan, dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (QS. Al Hijr, 15:22)
Dalam ayat ini, ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin menggerakkan awan. Namun, penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran 'mengawinkan' dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi 'mengawinkan' dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil, dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin, dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfir. Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin, dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekeliling partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan, dan kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin 'mengawinkan' uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang dibawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan. Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfir bagian atas tidak akan pernah terbentuk, dan hujan pun tidak akan terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Alquran, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam.
Fakta lain yang diberikan dalam Alquran mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut: "Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (QS. Az Zukhruf, 43:11)
Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 triliun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut ukuran atau kadar tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.
Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Alquran.

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/027.htm

Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an, 15:22)

Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran "mengawinkan" dari angin dalam pembentukan hujan.


Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:

Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.

Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.

Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.

Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…

Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, 24:40)

Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:

Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)

Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.

Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.

Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…" mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda." Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)

Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur'an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.

http://arbend503.blogspot.com/2009/06/byharun-yahya.html


“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal“. (QS.Az-Zumar 21).
Hujan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT bagi semua makhluk di alam semesta. Tetesan air yang turun dari langit menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Berkat kekuasaan Sang Khalik, setiap saat miliaran liter air berpindah dari lautan menuju atmosfer lalu kembali lagi menuju daratan. Kehidupan pun bergantung pada daur air ini.
Harun Yahya dalam The Signs in The Heavens and the Earth for Men of Understanding yang dialihbahasakan dalam Pustaka Sain Populer Islami: Manusia dan Alam Semesta terbitan Dzikra. menjelasan kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan hujan.
Harun juga membuktikan kebenaran dan kesesuaian ayat-ayat Alquran yang menjelaskan fenomena hujan dengan sains modern. ”Andai manusia mencoba mengatur daur di alam semesta, maka tak akan pernah berhasil, walaupun mengerahkan semua teknologi yang ada di bumi,” paparnya.
Tanpa harus menggunakan biaya dan teknologi, makhluk hidup di bumi bisa menikmati air melalui proses penguapan. Menurut Harun, setiap tahunnya 45 miliar liter kubik air menguap dari lautan. Air yang menguap tersebut dibawa angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Setiap tahun 3-4 miliar liter air dibawa dari lautan menuju daran untuk dapat dinikmati dan dimanfaatkan manusia.
Untuk itulah Alquran mengajak manusia untuk mensyukuri hujan sebagai karunia yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya. Dalam Alquran surat Al Waaqi’ah ayat 68-70 Sang Khalik berfirman,”Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, nisaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.”
Menurut Harun, Alquran dalam surat Az-Zukhruf ayat 11 mendefinisikan hujan sebagai air yang dikirimkan ”menurut kadar.” Dalam ayat itu Allah berfirman, ”Dan Yang menurunkan air langit menurut kadar (yang diperluka).” Harun menjelaskan, firman Allah SWT itu sangat sesuai dengan hasil kajian ilmu pengetahuan modern.
Betapa tidak. Hujan turun ke bumi dengan takaran yang tepat. Takaran pertama yang berhubungan dengan hujan tentulah kecepatan turunnya. Menurut Harun, benda yang berat dan ukurannya sama dengan air hujan, bila dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, akan mengalami perceoatan terus menerus dan akan jatu ke bumi dengan kecepatan 558 km/jam.
”Akan tetapi rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam,” papar Harun. Ia menjelaskan, air hujan jatuh kebumi dengan kecepatan yang rendah, karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang mampu meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah.
Harun menuturkan, ”Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tak memiliki sifat gesekan, maka bumi akan menghadapi kehancuran setiap hujan turun.” Menurut dia, ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter. Efek yang ditimbulkan satu test air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat satu kilogram yang jatuh dari ketinggian 15 cm.
”Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10 ribu meter. Pada kasus ini, satu tetes air yang jatuh akan memiliki efek yang sama dengan benda seberat satu kilogram yang jatuh dari ketinggian 110 cm,” tutur Harun. Ia menambahkan, dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.
Jumlah itu, ungkap Harun, sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. ”Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1.012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan takaran.”
Dalam surat An-Nahl ayat 10-11 Allah SWT berfirman, ”Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Yang tak kalah menarik untuk dicermati, Alquran menjelaskan bahwa air hujan adalah ”tawar”. Dalam surat Al Waaqi’ah ayat 68-78, Allah SWT secara tak langsung Allah SWT telah menyatakan bahwa air hujan yang dinikmati umat manusia rasanya tawar. ”…Kalau Kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”
Secara tegas dalam surat Al-Mursalat ayat 27, penjelasan tentang air tawar dijelaskan secara tegas. ”…dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar.” Tak hanya tawar, air yang diturunkan Allah SWT pun dijamin bersih. Dalam surat Al Furqan ayat 28, Allah SWT berfirman,”… Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.”
Ayat-ayat tersebut dapat dijelaskan kebenarannya berdasarkan sains. Menurut Harun, air hujan berasal dari 97 persen penguapan air laut yang asin. Lalu mengapa ketika turun ke bumi dalam bentuk air hujan menjadi tawar? Harun menuturkan, air hujan bersifat tawar karena adanya hukum fisika yang telah ditetapkan Allah.
”Berdasarkan hukum ini, dari manapun asal penguapan air, baik dari laut yang asin, dari danau yang mengandung mineral, atau dari dalam lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain,” paparnya. Harun mengungkapkan, air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai ketentuan Allah yang telah dijelaskan dalam surat Al Furqan di atas.
Kebenaran Alquran telah diakui para saintis Barat. Prof Alfred Kroner, guru besar Departemen Geosains Universitas Mainz, Jerman, mengaku terkagum-kagum dengan isi Alquran yang mampu menjelaskan asal mula terbentuknya alam semesta. “Memikirkan dari mana Muhammad berasal … saya berpikir hampir tak mungkin dia telah mengetahui banyak hal tentang asal mula alam semesta,” paparnya.
Atas dasar itu, Prof Kroner juga meyakini bahwa Alquran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah firman yang berasal dari Tuhan. Hal senada diungkapkan Prof Yushidi Kusan, direktur Observatorium Tokyo, Jepang,. Ia juga menyatakan sangat terkagum-kagum dengan apa yang dijelaskan Alquran tentang alam semesta.
“Saya sangat terkesan dengan fakta-fakta astronomi dalam Alquran yang terbukti kebenarannya. Kami, para astronom modern, baru mempelajari secuil saja tentang alam semesta,” ungkapnya. “Dengan membaca Alquran dan menjawab pertanyaan, saya kira, saya dapat menemukan jalan di masa depan untuk menginvestigasi alam semesta.” hri
Proses Pembentukan Hujan dalam Alquran
Para saintis telah mempelajari beragam jenis awan. Selain itu, kalangan ilmuwan juga meneliti proses terbentuknya awan dan bagaimana hujan terjadi. Secara ilmiah, saintis memaparkan proses terjadinya hujan dimulai dari awan yang didorong angin. Awan Cumulonimbus terbentuk ketika angin mendorong sejumlah awan kecil ke wilayah awan itu bergabung hingga kemudian terjadi hujan.
Tentang fenomena pembentukan awan dan hujan itu, Alquran pun menjelaskannya secara akurat. Simaklah Alquran surat Annur ayat 43. ”Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
Menurut Harun Yahya, manusia baru mengatahi tahapan pembentukan hujan setelah radar cuaca ditemukan. Namun, Alquran telah menjelaskan secara detail pada 14 abad silam. Berdasarkan pengamatan radar, papar Harun, pembentukan hujan terhadi dalam tiga tahap. ”Pertama, pembentukan angin; kedua, pembentukan awan; ketiga, turunnya hujan,” papar Harun.
Jauh sebelum manusia mengetahui itu, Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 48 berfirman, ” Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Harun menjelaskan ayat itu sangat sesuai dengan pemantauan radar cuaca. Tahap pertama pembentukan hujan dijelaskan lewat , ”Allah, Dialah yang mengirimkan angin…” Tahap kedua dijelaskan dalam, ”…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…” Tahap ketiga, ”… lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
Sungguh Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu.
http://insanpermata.com/fenomena-hujan-dalam-alquran